JAKARTA – potensinusantara.co.id – Kita tidak akan pernah tahu kapan kita bisa terjangkit oleh penyakit, terutama penyakit yang berbiaya tinggi atau biasa disebut dengan penyakit katastropik. Biaya kesehatan yang semakin tinggi mengakibatkan beban pengeluaran kita menjadi tidak terduga. Tentunya perlu penanganan-penanganan risiko penyakit tersebut agar tidak terjadi kepada diri kita dikemudian hari, salah satunya dengan menjaga kesehatan dengan beberapa cara seperti berolahraga dan menjaga asupan makanan. Hal tersebut merupakan upaya promotif dan preventif yang bersifat mencegah agar meminimalisasi terjadinya penyakit katastropik.
Selain berolahraga dan menjaga asupan makanan untuk menjaga kesehatan tubuh, ada penanganan risiko lainnya yang harus kita persiapkan sebelum jatuh sakit di masa yang akan datang, yaitu dengan menjadi peserta JKN-KIS. Dengan menjadi peserta JKN-KIS, risiko beban pengeluaran atas biaya kesehatan yang tinggi bisa teratasi karena sudah dijamin oleh BPJS Kesehatan dan juga adanya Program Prolanis (Pengelolaan Penyakit Kronis) di klinik dan Puskesmas dapat menjaga dan mengontrol perkembangan penyakit katastropik yang diderita oleh peserta JKN-KIS. Hal ini diamini oleh Idim Ibrahim (42 Tahun) yang lebih akrab dipanggil Idim, seorang karyawan swasta di salah satu perusahaan di Jakarta.
“Saya sudah menjadi peserta JKN-KIS sejak saya menjadi karyawan swasta pada tahun 2015 yang pada masa itu BPJS Kesehatan belum lama bertransformasi dari PT. Askes (Persero) di tahun 2014, saya merasa bersyukur dengan adanya jaminan kesehatan ini karena meringankan beban pengeluaran yang tidak terduga pada saat mendapatkan pelayanan kesehatan, sudah banyak manfaat yang didapatkan oleh keluarga inti saya maupun saudara terdekat saya, mulai dari penyakit yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas sampai dengan yang disebabkan oleh kondisi kesehatan,” ucap Idim saat dijumpai oleh tim Jamkesnews, Rabu (18/5).
Idim mengatakan bahwa keluarganya yang telah merasakan manfaat dari Program JKN-KIS ini diantaranya, seperti istrinya saat melakukan proses persalinan, lalu ada anaknya yang harus dilakukan rawat inap karena penyakit diare hingga dirinya yang pernah mengalami kecelakaan jatuh dari motor yang mengakibatkan tidak bisa bekerja selama beberapa hari. Pada intinya Idim sangat tertolong dengan adanya Program JKN-KIS, jika Program JKN-KIS tidak ada dan perusahaan tempat ia bekerja tidak memiliki jaminan kesehatan mungkin sudah habis tabungannya untuk membiayai pelayanan kesehatannya.
“Saya berharap kedepannya BPJS Kesehatan bisa terus berkembang untuk dapat selalu melayani peserta JKN-KIS serta lebih banyak lagi masyarakat yang menjaga kesehatannya sehingga dapat menjadikan Indonesia yang lebih sehat, tentunya juga tidak lupa mengingatkan kembali bagi para peserta JKN-KIS untuk selalu membayar iuran secara rutin setiap bulannya agar terhindar dari denda pelayanan dan yang paling penting turut bergotong royong membantu peserta lain yang sedang sakit,” tutup Idim diakhir perbincangan.(MN/cp)












