Menyingkap Kebudayaan dan Tradisi di Banyuwangi oleh Mahasiswa KKN-PPM UGM Cluring

banner 468x60

Cluring Banyuwangi Jawa Timur, potensinusantara.co.id – selama masa pengabdian Juli 2025, mahasiswa KKN-PPM UGM berupaya untuk menilik kebudayaan dan tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat. Melalui program kerja dokumentasi kebudayaan dan tradisi yang dilakukan oleh mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya dapat ditemukan berbagai potensi ciri khas Banyuwangi.

Mahasiswa KKN UGM berhasil mendokumentasikan kebudayaan dan tradisi, antara lain baritan, ziarah haji, jaranan buto, gandrung, batik, BEC, dan petik laut. Dari berbagai kegiatan tersebut, mahasiswa menelaah lebih dalam perihal sejarah, latar belakang, eksistensi, serta peran masyarakat saat ini dengan narasumber .

Salah satu narasumber yaitu Pak Suko, pemilik sanggar Gandrum Arum di Kecamatan Cluring. Melalui wawancara dengan beliau, dapat dijelaskan bahwa,” Tari gandrung dahulu digunakan sebagai alat perjuangan semasa adanya penjajahan. Namun, saat ini terdapat pergeseran masa sehingga terdapat perkembangan dari tari gandrung yang awalnya ditarikan oleh penari laki-laki menjadi penari perempuan,” jelasnya

Melalui sanggarnya, banyak penari yang berpartisipasi pada acara Festival Gandrung Sewu yang digalakkan oleh Pemerintah Banyuwangi dalam mengembangkan budaya dan menunjang sektor wisata.

Tradisi baritan juga masih tetap eksis dalam masyarakat. Baritan ini dilaksanakan untuk menyambut Bulan Suro dengan berdoa bersama dan meminta keberkahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kegiatan ini dilaksanakan di setiap perempatan desa dengan membawa makanan yang akan dimakan bersama setelah prosesi doa.

Selain itu, eksistensi jaranan buto masih tinggi dalam masyarakat. Jaranan buto biasanya akan tampil pada hajatan yang dilakukan oleh masyarakat. Pak Yoto sebagai pemilik Sanggar Jaranan Sekar Cahaya Budaya mengungkapkan bahwa undangan untuk tampil tergantung dengan hajatan yang diselenggarakan masyarakat.

“Di Desa Tampo ini ada sekitar enam kelompok kesenian jaranan. Biasanya sekitar Bulan Agustus permintaan untuk tampil sudah mulai padat. Hajatan yang diselenggarakan warga biasanya cara menunjukkan rasa syukur dan sukanya mengundang jaranan sebagai pelengkap acara.” jelasnya

Antusias masyarakat dalam mengapresiasi kebudayaan maupun tradisi masih sangat tinggi. Melalui wawancara dengan tokoh budaya, ditemukan harapan besar bahwa eksistensi setiap kegiatan budaya tidak menurun. Perlunya campur tangan generasi muda dalam pelestariannya juga diharapkan dapat terus terjalin sehingga kepunahan terhadap budaya tidak akan terjadi. Program kerja kebudayaan yang dilakukan oleh mahasiswa KKN-PPM UGM ikut berperan aktif dalam menjaga eksistensi kebudayaan dan tradisi di masyarakat Banyuwangi.

(MSP)
Penulis: Regin A.
Fotografer: Ni Luh P. S.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *