BANDUNG, potensinusantara.co.id – Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi berunjuk rasa di halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, Kota Bandung, Kamis (11/6/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menuntut pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mengambil langkah konkret untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus melemah dalam beberapa pekan terakhir.
Aksi unjuk rasa dimulai sekitar pukul 15.00 WIB di halaman Kantor DPRD Jawa Barat. Sebelum bergerak ke lokasi, para mahasiswa berkumpul di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monju) dan berjalan kaki menuju gedung DPRD.
Aksi tersebut mengusung tema “Indonesia di Ambang Krisis, Rakyat Bangkit Rebut Kedaulatan”. Menurut para peserta demonstrasi.
Sejumlah mahasiswa dari beberapa universitas yang ada di Provinsi Jawa Barat (Jabar), menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (11/6) sore ini.
Massa gabungan mahasiswa itu berdemonstrasi menyuarakan kesulitan yang membebani rakyat Indonesia saat ini.
Berdasarkan pantauan di lokasi, massa aksi membawa sejumlah spanduk dan poster berisi kritik terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Meski menyuarakan kritik keras, aksi berlangsung tertib dan damai di bawah pengawalan aparat kepolisian. Mereka juga mendesak penuntasan janji reforma agraria.
“Kita ingin mendesak negara untuk mewujudkan reforma agraria sejati dan industrialisasi nasional sebagai jalan keluar atas banyaknya tindasan yang kita alami, termasuk juga dari beberapa cabang tuntutan kita berharap yang pertama adalah hentikan MBG, hentikan total MBG! Karena jelas ini menghabiskan banyak anggaran yang sudah dikeluarkan oleh negara,” kata Ainul Mardhyah selaku Koordinator Front Mahasiswa Nasional (FMN) Bandung Raya, di sela-sela aksi.
Ia menuturkan program MBG selain pemborosan anggaran negara, juga disebutnya telah menyebabkan sejumlah anak dan warga mengalami keracunan.
Selain itu, aksi ini juga untuk mendesak pemerintah segera menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka berpendapat masyarakat Indonesia berhak memperoleh akses transportasi yang murah dan terjangkau, terutama di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok.
Diketahui, pada Rabu (10/6) lalu, pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi. Pertamax (RON 92) kini dibanderol R16.250 per liter, Pertamax Green 95 Rp17.000 per liter, Pertamax Turbo Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.
Kemudian Pertalite (BBM subsidi) masih tetap sama Rp10.000 per liter, dan Biosolar (BBM subsidi) Rp6.800 per liter.
Ketua BEM UPI, Khallid Syhaeful, mengatakan aksi tersebut lahir dari keresahan yang sama di kalangan mahasiswa terhadap kondisi bangsa yang dinilai sedang menghadapi berbagai persoalan serius.
“Hari ini tujuan kita adalah pertama tentunya membahas terkait isu yang sedang ramai yang ada di masyarakat,” kata Khallid dikutip dari detik.com.
Selain menyampaikan aspirasi, mahasiswa juga ingin menunjukkan bahwa keresahan terhadap kondisi negara tidak hanya dirasakan segelintir kelompok, tetapi juga dirasakan oleh banyak elemen masyarakat.
“Yang kedua juga kita ingin aksi kita pada hari ini teman-teman memiliki kesadaran, pun juga keresahan yang sama bagaimana akhirnya pemerintah hari ini gagal dalam mengelola negara yang baik seperti itu,” ujarnya.
Menurut Khallid, tuntutan yang dibawa mahasiswa merupakan hasil konsolidasi bersama berbagai kampus dan elemen masyarakat. Dari berbagai masukan yang diterima, isu-isu tersebut kemudian mengerucut pada tiga sektor utama.












