Karnaval Bambu Desa Gintangan Banyuwangi, 1 Kostum Merogoh Kocek Hingga Rp 1 Juta

banner 468x60

Banyuwangi, potensinusantara.co.id- Puluhan peserta karnaval dengan memakai kostum yang berbahan dasar bambu, berlenggak-lenggok di jalanan Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada Sabtu (27/8/2022).

Mereka mengikuti kegiatan tahunan Gintangan Bamboo Festival (GBF) yang dirangkai dengan karnaval pelajar se-Desa Gintangan dalam rangka memperingati HUT Ke-77 RI. Acara GBF sudah berlangsung sejak 2017, walaupun dua tahun sebelumnya tidak digelar karena terhalang pandemi.

Oleh karenanya, GBF tahun 2022 ini digelar dengan semarak kemerdekaan. Kegiatan ini merupakan salah satu mempromosikan kerajinan bambu hasil kreasi warga Desa Gintangan yang merupakan sentra kerajinan bambu di Banyuwangi. Apalagi desa tersebut berada pada posisi strategis dekat bandara dan pusat kota.

Menurut salah satu peserta karnaval, Abdul Hadi, untuk membuat satu buah kostum yang terbuat dari anyaman bambu, dibutuhkan sekitar seminggu bahkan sampai dua minggu pengerjaan.

“Pemuda-pemudi sini berkreasi dengan memanfaatkan bahan yang ada di sekitar, seperti bambu ini, daripada harus beli bahan-bahan kostum yang mahal,” ujar Hadi kepada PeduliBangsa.co.id

Dirinya menambahkan, untuk membuat satu buah kostum bambu merogoh kocek Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta yang merupakan dana hasil swadaya.

“Besarnya biaya pembuatan tergantung corak dan ukuran kostumnya. Biaya untuk beli cat dan ornamen lain agar menarik dilihat walau dari bambu,” lanjutnya.

Tak hanya batang dan kulit bambu, dedaunan bambu pun disulap menjadi berbagai kostum yang unik, mulai dari kostum bertema etnik hingga futuristik.

Saat membuka Gintangan Bamboo Festival, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyampaikan sentra bambu di Gintangan adalah aset bagi masyarakat. Oleh karenanya nama desa yang sudah terkenal harus dikelola dengan baik.

“Bapak ibu boleh mengambil bambu sebagai bahan utama berkreasi, tapi jangan lupa ada tanggung jawab untuk menjaga pohon bambu agar tidak punah. Maka harus ada reboisasi atau penanaman kembali, agar tidak punah,” pesan Ipuk.

Pada kesempatan ini, Kepala Desa Gintangan Hardiyono mengungkapkan terselenggaranya festival ini tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak terkait. Dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada Bupati yang bisa hadir di acara ini.

“Kegiatan Gintangan Bamboo Festival ini murni dari swadaya masyarakat. Berkat kekompakan dan persatuan, dan dengan persiapan setengah bulan kita bisa mengadakan event yang luar biasa ini,” kata Hardiyono.
(r)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *