Banyuwangi Jawa Timur. potensinusantara.co.id -Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan ASDP Ketapang-Gilimanuk terganggu serius akibat proses audit kelayakan kapal oleh ASDP, Syahbandar, dan Dinas Perhubungan. Dari total 37 kapal yang seharusnya beroperasi (terdiri dari 28 unit reguler dan 9 unit LCM), hanya 19 kapal yang saat ini beroperasi — 17 unit di MB 1 hingga D4 dan hanya 2 unit LCM dari total 9 yang tersedia.
Minimnya jumlah kapal menyebabkan antrean kendaraan dan penumpang mengular hingga wilayah Watudodol, mengganggu arus logistik dan transportasi antar-pulau. Ratusan kendaraan angkutan barang, pribadi, dan umum terpaksa menunggu berjam-jam di area pelabuhan.

Wahyudi (Yudi), bagian darat (LSN), menjelaskan bahwa penurunan jumlah kapal beroperasi terjadi karena audit ketat terhadap kelayakan teknis armada.
“Di MB 1 sampai D4 memang sudah 17 kapal yang aktif, tapi LCM hanya beroperasi dua dari sembilan. Kondisi ini jelas membuat distribusi tidak seimbang dan pelayanan terganggu,” jelas Yudi Rabu 16/07/2025 Ketapang Banyuwangi
Ia menambahkan bahwa demonstrasi penumpang memaksa pengelola menambah kapal operasional, tapi belum cukup untuk meredakan kemacetan panjang dan kepadatan pelabuhan.
“Kami harap proses audit segera rampung. Kalau semua kapal bisa jalan, arus penyeberangan akan kembali normal, logistik tidak tertunda, dan masyarakat tidak dirugikan lebih jauh,” tambahnya.
Situasi ini memicu desakan agar otoritas pelabuhan dan instansi teknis mempercepat proses penilaian dan segera merilis kapal-kapal yang sudah dinyatakan layak. Koordinasi lintas lembaga dibutuhkan agar krisis transportasi di pelabuhan vital Jawa-Bali ini tak berlarut.
(MSP)












